Pembangunan yang berlokasi strategis di pusat kota ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya Pemkab Konawe untuk melestarikan nilai-nilai luhur Kalo Sara dalam kehidupan modern.
Monumen ini dirancang dengan estetika modern namun tetap mempertahankan pakem filosofis. Struktur utama monumen menyerupai anyaman rotan melingkar yang melambangkan tiga pilar utama hukum adat Tolaki: agama, pemerintah, dan adat.
Pusat Literasi Budaya: Di bawah area monumen, direncanakan terdapat ruang galeri atau museum mini yang memajang artefak budaya dan sejarah perjuangan masyarakat Konawe.
Ruang Terbuka Hijau (RTH): Kawasan sekitar monumen akan dilengkapi dengan taman kota yang ramah keluarga, jalur pedestrian yang luas, dan tata cahaya (lighting) artistik untuk mempercantik suasana malam hari.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Konawe menyatakan bahwa proyek ini terintegrasi dengan penataan koridor jalan utama Unaaha.
"Monumen Kalosara akan menjadi magnet baru. Kami memproyeksikan peningkatan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal budaya Tolaki, yang secara otomatis akan menghidupkan sektor UMKM di sekitar lokasi," ungkapnya.
Hingga awal 2026, pengerjaan difokuskan pada finishing struktur atas dan penataan lanskap taman. Pemerintah daerah menargetkan monumen ini dapat diresmikan menjelang HUT Kabupaten Konawe, sehingga bisa menjadi kado spesial bagi masyarakat.
Selain menjadi tempat berfoto (spot foto) yang ikonik, Monumen Kalosara diharapkan menjadi tempat edukasi bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar budayanya di tengah arus globalisasi.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Konawe berkomitmen memberikan informasi pembangunan yang transparan.
Hubungi Kami